03
Mei

Kembali Ke Radio

\"\\"foto0040-copy\\"\"Menyiar di radio seperti telah mendarah daging dalam kehidupan saya. Meski tak rutin, tiga kali sepekan cukup buat saya sekedar untuk  berekspresi sekaligus bernostalgia di udara. Banyak kenangan memang. Getir manisnya jadi seorang penyiar telah menjadi warna tersendiri dalam kehidupan saya. Banyak teman-teman yang mencibir ketika saya kembali ke  kehidupan lamaku itu. Cukup beralasan memang, meski Mereka tak pernah tahu kalau saya kembali kesana untuk memberi warna lain yang tak pernah saya berikan sebelumnya. Saya memnghaturkan terima kasih dan  memberikan apresiasi kepada GM PT. Radio Gema  Adhikatama Swara yang  bersedia merekrut saya kembali setelah sebelumnya hengkang karena alasan yang tak jelas bagi pihak manajemen. Saya kembali ke radio bukan sekedar untuk melepaskan penat setelah beraktifitas sebagai seorang Abdi Negara,..semoga seperti yang pendengar inginkan,.saya  ingin menjadi Abdi Pendenga

06
Apr

ketika kita sungkan untuk berempati..

05 April 2011 di kota kelahiran saya, palopo….

Membaca Koran Palopo Pos edisi Selasa, 05 April 2011 seperti membuka tabir kelam penanganan Medis di Rumah Sakit Milik Pemerintah.Keluarga Pasien peserta Jamkesmas di RSUD sawerigading Palopo merasa di ‘terlantarkan’ . Saya bisa merasakan bagaimana ekspresi kekecewaan pasien tersebut ketika mengalami kejadian memilukan seperti itu .kekecewaan dan kegeramaan terhadap kualias pelayanan memang sudah sering terjadi,ini disebabkan karena minimnya empati para tenaga medis ketika mereka memberikan pelayanan medis kepada pasien . Saya pernah melihat langsung dan merasakan bagaimana air muka para pelayan kesehatan ketika menengani pasien, khususnya di rumah sakit yang notabene milik pemerintah itu. Insiden di UGD misalnya,ketika ada pasien yang mengerang-ngerang kesakitan dan butuh penanganan yang cepat,beberapa ekspresi yang saya dapati dari para tenaga medis adalah kesan santai tanpa ekspresi dan tak jarang diantara mereka mengulur-ulur waktu untuk menangani apalagi mereka yang berbasis ekonomi lemah.Harusnya penanganan prima yang harus diutamakan dulu karena bagaimanapun penyelamatan nyawa seseorang menjadi hal utama, tanpa memandang dari strata mana ia berasal. Masyarakat sudah tahu kemampuan mereka dan tentu sudah mempersiapkan segalanya ketika ada anggota keluarganya yang masuk rumah sakit.Kecendrungan sikap jaga image harus di tanggalkan dalam keadaan emergency, pelayanan medis butuh kecepatan penanganan dan ketepatan diagnosa.

Ini mungkin hanya curahan hati,..curahan hati masyarakat awam yang bukan hanya sekali melihat langsung kualitas pelayanan di rumah sakit berlabel milik pemerintah itu. dan satu lagi,..sangat jarang saya melihat senyum tulus para tenaga medis yang bertugas.kalaupun menyapa dan berdialog dengan pasien sepertinya begitu terbatas dan ada kesan kaku….

Bukankah Pasien bukan hanya fisiknya saja yang harus di sembuhkan tetapi bagaimana batin mereka merasa di sentuh melalui pelayanan yang humanis….

Sekali lagi ini hanya curahan,..dan bagi saya memori di RSUD Sawerigading Palopo sulit untuk saya lupakan.Saya hanya ingin mengetuk mata batin kita,.sedikit demi sedikit lewat empati yang humanis terkhusus bagi mereka yang melewatkan duka bercampur kecewa…